Pastor Hendrikus Maku, SVD Doktor ke -1659 Bidang Pengkajian Islam Program Doktor Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Maumere, Sikka NTT. FajarAktual. Com
Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Ujian Promosi Doktor ke-1659 di Ruang Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA pada Senin, 2 Februari 2026 dengan promovendus Hendrikus Maku.

Pastor Hendrikus yang juga Dosen Islamologi IFTK Ledalero Kabupaten Sikka Flores NTT ini merupakan mahasiswa program Doktor Pengkajian Islam dengan Konsentrasi Sejarah dan Peradaban Islam.
Disertasinya berjudul “Akulturasi Ata Wa Wae dengan Ata Eta Golo dalam Praktik Perkawinan Adat Manggarai, Flores Barat, Nusa Tenggara Timur”.
Hendrikus memaparkan riset mendalamnya yang memotret keindahan dialog antara agama dan tradisi di ujung barat Pulau Flores.
Secara filosofis, Hendrikus mengangkat istilah Ata wa Wae untuk merepresentasikan identitas Islam dan Ata eta Golo bagi budaya lokal Manggarai. Penelitian ini berangkat dari kegelisahan epistemik yang mendasar: sejauh mana Islam kompatibel dengan struktur budaya Manggarai yang telah mapan selama berabad-abad?
Melalui kacamata sejarah, riset ini melacak jejak panjang kehadiran Islam di Manggarai sejak abad ke-17. Dibawa melalui jalur perdagangan dan dakwah Kesultanan Gowa-Tallo serta Bima, Islam masuk bukan sebagai penakluk kebudayaan, melainkan sebagai tamu yang perlahan membangun ruang interaksi dengan modernitas kontemporer.
Hendrikus menggunakan pendekatan kualitatif-etnografis yang sangat intim. Data-data dikumpulkan melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam, lalu dibedah dengan model analisis domain, taksonomi, dan komponen. Hasilnya adalah sebuah argumen autentik yang menolak narasi tunggal tentang benturan peradaban.

Dalam paparannya, Hendrikus menegaskan bahwa ketegangan antara Islam dan adat sering kali membayangi proses Islamisasi di berbagai wilayah. Namun, di Manggarai, konflik atau harmoni sangat ditentukan oleh kecakapan struktur dan agen kebudayaan dalam memainkan strategi ideologis mereka di lapangan.
Menariknya, akulturasi ini berlangsung melalui mekanisme resiprositas simbolik yang cair dan tanpa sekat kecurigaan. Hal ini terlihat nyata dalam praktik mahar atau belis (paca), ritus wagal, hingga doa adat (torok/tudak) yang mulai berdialog secara terbuka dengan nilai-nilai Islami.
Riset ini menemukan bahwa Islam di Manggarai tidak meniadakan adat, melainkan menjadikannya energi transformatif. Praktik budaya lokal justru mengafirmasi prinsip Maqashid Syariah, yakni menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, hingga harta, yang semuanya dibalut apik dalam bingkai kearifan lokal setempat.
Inovasi sosial yang lahir pun tergolong unik, seperti penggantian hewan kurban dari babi (ela) menjadi kambing (mbe) dalam prosesi adat. Selain itu, terjadi integrasi antara doa-doa adat dengan dzikir, serta reinterpretasi simbol-simbol lama agar selaras dengan prinsip halal tanpa menghilangkan esensi budaya.

Secara teoritis, temuan Hendrikus semakin mengukuhkan kelenturan Islam sebagai agama yang ṣāliḥ li kulli zamān wa makān (relevan di setiap waktu dan tempat). Penelitian ini memperkaya diskursus Islam Nusantara sekaligus memperkuat konsep pribumisasi Islam yang telah lama menjadi ciri khas keberislaman di Indonesia.
Secara praktis, keberhasilan akulturasi ini menjadikan Manggarai sebagai potret Dār al-Salām atau Rumah Damai. Di sana, masyarakat berhasil merawat pluralitas dengan teguh dan secara kolektif menolak dominasi hegemoni puritanisme yang sering kali memicu perpecahan.
Di tengah gempuran arus globalisasi dan bayang-bayang radikalisme, studi ini hadir sebagai kontra-narasi yang kuat.
Hendrikus membuktikan bahwa agama dan budaya bukanlah dua kutub yang saling meniadakan, melainkan dua arus besar yang dapat berpadu menciptakan harmoni kehidupan.
Hendrikus memaknai akulturasi ini sebagai sebuah orkestrasi atau seni kolaborasi tanpa kehilangan jati diri. Dalam simfoni spektakuler inilah, Islam menemukan wajahnya yang paling indah (al-Islām jamīl): universal, humanis, dan benar-benar membumi di tanah Manggarai.
Pastor Hendrikus Maku berhasil mempertahankan disertasinya di bawah bimbingan Prof. Dr. Jamhari, MA, Prof. Ismatu Ropi, MA, Ph.D dan Hamdani, M.Ag, Ph.D, dan diuji di hadapan dewan penguji yang terdiri atas Prof. Dr. Zulkifli, MA, Prof. Dr. Jamhari, MA, Prof. Ismatu Ropi, MA, Ph.D, Hamdani, M.Ag, Ph.D, Prof. Dr. Kamarusdiana, MH, Prof. Jajang Jahroni, MA, Ph.D dan Prof. Dr. Dzuriyatun Toyibah, M.Si, MA.
Hendrikus Maku Biarawan SVD asal Manggarai Flores NTT ini merupakan Doktor ke-1659 dalam bidang Pengkajian Islam, program doktor Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.(JA)
Syukur dan Terimakasih
Pada hari yang penuh rahmat ini, Senin 2 Februari 2026, jam 14.00 WIB, aku menundukkan kepala dan mengangkat hati dalam syukur yang mendalam.
Kepada Tuhan Yesus Kristus, Sang Sumber Hikmat dan Terang yang tak pernah padam, kupanjatkan pujian atas kasih dan penyertaan-Nya yang menuntun setiap langkah—dari malam-malam penuh keraguan hingga pagi-pagi yang kembali menyalakan harapan.
Tanpa tangan-Nya yang meneguhkan, aku takkan tiba pada ambang sejarah perjalananku hari ini.
Aku juga bersyukur untuk orang-orang baik yang Tuhan hadirkan sebagai jalan rahmat-Nya.
Untuk SVD dan keluarga yang menjadi rumah bagi setiap doa dan keteguhan.
Untuk para guru, pembimbing, dan dosen yang mengajar bukan hanya dengan ilmu, tetapi juga dengan kebijaksanaan dan keteladanan.
Untuk sahabat-sahabat yang setia mengulurkan tawa, telinga, dan keberanian di saat pundak ini hampir menyerah.
Untuk semua yang pernah menyapa, mendoakan, atau sekadar menguatkan dari kejauhan—terima kasih telah menjadi lentera kecil yang memanduku melewati lorong-lorong panjang akademik.
Hari ini, di ruang ujian promosi Doktor Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, aku berdiri bukan hanya atas usahaku, tetapi atas kasih yang bertumpuk-tumpuk dari langit dan dari manusia.
Kiranya setiap langkah ke depan tetap menjadi persembahan syukur,
dan setiap ilmu yang kutimba menjadi berkat bagi sesama.
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Sebaik-baiknya manusia adalah dia yg paling memberi manfaat bagi manusia lainnya.
Redaksi : Yuven Fernandez













