*Mengelola Sawah, Menggapai Mimpi: Peranan Perempuan dalam Ketahanan Pangan Keluarga*
Fajar Aktual Kupang, 13/2/2026
Melalui mengolah sawah, sebuah pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh kaum pria, namun banyak perempuan yang terjun langsung kerja sawah dengan seluruh kekuatan, potensi, dan keterbatasannya demi membantu mengatasi masalah kekurangan pangan di keluarga.

Brigitta Abi, seorang perempuan yang terjun langsung mengolah sawah di desa Sekon Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), mengatakan bahwa di era sekarang, perempuan tidak selamanya peranannya hanya terbatas pada peran tradisional di dapur, tetapi juga harus terjun langsung ke lapangan untuk membantu meningkatkan ketahanan pangan keluarga melalui berbagai cara.
“Mengolah sawah adalah contoh nyata bagaimana perempuan yang tinggal di lingkungan daerah persawahan untuk mengelola sawah. Perempuan itu memiliki kekuatan dan ketabahan seperti kaum laki-laki untuk bekerja dalam menghadapi tantangan, termasuk ketahanan pangan keluarga,” kata Gita, nama sapaan Brigitta, dengan penuh semangat.
Dengan bekerja di sawah, perempuan tidak hanya membantu meningkatkan produksi pangan, tetapi juga memberikan kontribusi ekonomi bagi keluarga. Selain itu, mereka juga menjadi contoh bagi anak-anak dan masyarakat sekitar tentang pentingnya kerja keras dan kemandirian.
Gita juga menekankan bahwa peran perempuan dalam ketahanan pangan keluarga tidak hanya tentang kerja fisik, tetapi juga tentang strategi dan manajemen yang efektif dalam mengelola sumber daya yang ada. “Perempuan adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang bekerja keras demi kesejahteraan keluarga dan masyarakat,” katanya.
Ia menyarankan agar para perempuan jangan gengsi untuk bekerja di sawah, karena itu adalah pekerjaan yang bermartabat dan mulia. Perempuan yang bekerja di sawah adalah contoh nyata dari keberanian, ketabahan, dan dedikasi yang tidak boleh diragukan lagi.

Gita juga membagikan pengalamannya mengolah sawah seluas 1 hektar lebih, dan saat ini sedang melakukan perawatan dan pemupukan. Ia berharap curah hujan tahun ini baik sehingga sawah tidak kekeringan dan padi mati.
Namun, Gita juga mengakui bahwa ada tantangan dalam mengolah sawah, seperti kesulitan mendapatkan traktor, pupuk, dan obat-obatan. “Kadang sulit untuk mendapatkan pupuk subsidi. Kami adalah petani yang berusaha sendiri dengan modal sendiri selama ini,” katanya.
Reporter, Yohanes Tafaib













