Kupang, Fajar Aktual jumat 26/06/2026
Pelni Tano Kupang, NTT, kembali menjadi pusat riuh rendah manusia pada Kamis pagi. Dermaga dipadati penumpang yang baru tiba dan yang bersiap berangkat dengan berbagai kapal milik PT Pelni. Salah satunya KM Lawit yang melayani rute Ende-Kupang-Lewoleba dan sebaliknya. Suara peluit kapal, teriakan porter, hingga panggilan petugas berbaur dengan langkah kaki ratusan orang yang membawa kardus, karung, dan koper.
Keramaian mencapai puncaknya saat loket check-in dibuka. Antrean mengular dari pintu terminal hingga ke area parkir. Sebagian penumpang memilih jalur online, sibuk menatap layar ponsel sambil mencari sinyal. Sebagian lagi bertahan di jalur manual, membawa print tiket dan KTP yang sudah lecek. Semua punya satu tujuan: memastikan nama mereka masuk daftar penumpang final sebelum pintu kapal ditutup.
Di antara lautan manusia itu, seorang ibu dengan kebaya sederhana dan selendang tenun mencuri perhatian. Wajahnya sudah berkerut, rambut memutih, namun langkahnya tegap menyusuri antrean check-in KM Lawit tujuan Lewoleba. Saat ditanya, ia hanya tersenyum dan menolak menyebut nama. “Untuk apa nama, yang penting saya bisa pulang lihat cucu,” ujarnya pelan.
Usia tak membuatnya menyerah pada keadaan. Ia tiba di pelabuhan sejak pukul 05.00 WITA, tiga jam sebelum loket dibuka. Sambil duduk di atas kardus berisi oleh-oleh, ia mengamati petugas yang mulai menyalakan komputer. Sesekali ia berdiri, memastikan barisan di depannya bergerak. Ketika gilirannya tiba, tangannya gemetar menyerahkan KTP dan kode booking yang ditulis di sobekan kertas.
“Umur segini tidak membuat saya tinggal diam. Kalau tidak berjuang sendiri, siapa lagi? Anak-anak semua di rantau,” katanya sambil menggenggam boarding pass yang baru dicetak petugas. Matanya berkaca, antara lega dan lelah. Baginya, selembar kertas itu bukan sekadar tiket, melainkan kepastian untuk bisa pulang ke kampung halaman setelah berbulan-bulan menengok anak di Kupang.
Petugas Pelni Tano Kupang mengakui, lonjakan penumpang terjadi setiap KM Lawit sandar dari Ende. Kapal itu menjadi nadi transportasi warga Lembata dan Flores Timur. “Sekali sandar bisa 800 sampai 1.200 orang naik turun. Check-in manual dan online kami buka bersamaan, tapi tetap saja antre,” jelas salah satu petugas yang enggan disebutkan namanya. Ia menambahkan, sistem online belum sepenuhnya mengurangi kepadatan karena banyak penumpang lansia dan dari pelosok belum akrab dengan aplikasi.
Di ruang tunggu, cerita serupa berulang. Bapak-bapak menggendong anak, ibu-ibu menyusui sambil menjaga barang, hingga remaja yang mondar-mandir mencari colokan listrik. Bau keringat, aroma kopi dari warung di sudut terminal, dan pengumuman yang sesekali putus-putus melengkapi suasana. Semua orang menahan sabar, karena mereka tahu: tidak ada kapal lain sampai beberapa hari ke depan.
KM Lawit bukan satu-satunya. Hari itu, kapal lain seperti KM Umsini dan KM Awu juga dijadwalkan sandar. Akibatnya, area pelabuhan seperti pasar dadakan. Pedagang asongan menjajakan air mineral, kue, hingga nasi bungkus. Porter berseragam oranye hilir mudik menawarkan jasa dengan tarif Rp20 ribu hingga Rp50 ribu per bawaan, tergantung berat dan jarak ke kapal.
Bagi ibu asal Leoleba tadi, riuh ini adalah harga yang harus dibayar untuk sebuah pertemuan. Setelah boarding pass di tangan, ia berjalan pelan menuju ruang tunggu, dibantu seorang porter muda yang iba melihatnya. Ia duduk, membuka bekal jagung titi, dan menatap KM Lawit yang mulai memuntahkan penumpang dari Ende. Di matanya, lelah bercampur harapan.
Pelni Tano Kupang hari ini bukan sekadar titik transit. Ia adalah panggung perjuangan. Dari antrean check-in yang menguji kesabaran, hingga tekad seorang ibu yang menolak kalah oleh usia. Semua berpadu menjadi potret kecil Indonesia Timur: riuh, keras, namun penuh daya hidup untuk terus bergerak dan pulang.
Ana Funan













