*Damai di Ujung Jalan Wini: Tanah 1,3 Ha Bikin Saudara Duduk Satu Meja, Ego Dibuang ke Laut*
fajarAktual.com. 8 Mei 2026
Timor Tengah Utara – Sengketa tanah di Wini, Kecamatan Insana Utara, TTU, belum pecah telur. Sidang mediasi Kamis, 7 Mei 2026 di PN Kefa berakhir antiklimaks: posisi masih 0-0. Hakim kasih napas, lanjut Rabu, 12 Mei 2026.
Tapi ada yang beda dari sidang tanah biasanya. Ini bukan perang berkas. Ini soal saudara yang mau pulang ke meja makan yang sama.
*Poin penting yang bikin mediasi kemarin panas-dingin:*
*1. Meja Mediasi Rasa Keluarga*
Hakim Mediasi Yudhistira Gusti Dharmawan tegas: buang tumpukan data, buang saksi, rangkul dulu. Tujuannya satu: hemat waktu, hemat biaya, nama baik keluarga tidak diobral ke publik. Pesannya jelas, menang di pengadilan tapi kalah saudara = rugi besar.
*2. Tergugat Buka Kartu: “Saya Siap Damai”*
Rio Hartanto, ahli waris Thomas Hartanto, ngaku pegang setumpuk bukti. Tapi dia pilih rem. “Rumah penggugat di Wini itu tempat saya nginap dulu kalau ikut ayah. Kami saling kenal. Ada masalah warisan sedikit. Saya mau damai sejauh tuntutannya wajar,” katanya di sudut ruang sidang. Nada bicara: lebih ke adik-kakak, bukan lawan.
*3. Penggugat Tahan Gas: “Kami Cuma Minta Hak”*
Rina Kolo mewakili penggugat bicara tenang. Tanah 1,3 ha di poros Wini–Oeccusse itu yang dipersoalkan. Harga jualnya? Gelap. “Karena tidak tahu, kita pakai NJOP saja. Standar nasional. Kita mau damai karena kenal dari dulu,” ujarnya. Tidak ada teriakan, tidak ada tudingan.
*4. Sidang Tanpa Koper Berkas*
Pemandangan langka terekam awak media. Para pihak masuk ruang mediasi tidak gotong kardus bukti. Cuma selip KTP di saku: identitas ahli waris dan kuasa hukum. Simbol bahwa pintu damai memang sedang dibuka.
*5. Bola Ada di 12 Mei*
Dua pihak sama-sama turunkan ego, naikkan nurani. Tinggal angka yang cocok. Kalau Rabu, 12 Mei 2026 nanti deal, sengketa tahunan ini tamat. Kalau buntu, berarti ganti babak: adu data.
Wini menahan napas. Tanah boleh 1,3 ha, tapi persaudaraan yang dipertaruhkan seluas tapal batas.
(Ana Funan)













