*KRISIS DOKTER ANESTESI, RSUD KEFAMENANU AKUI PINJAM DOKTER DARI ATAMBUA – PASIEN IBU HAMIL NYARIS TAK TERTOLONG*
Fajar Aktual. 30 September 2026
KEFAMENANU, http://FajarAktual.com – Kasus nyaris tak tertolongnya pasien ibu hamil dengan dugaan gawat janin di RSUD Kefamenanu membuka kembali persoalan mendasar terkait krisis tenaga spesialis di rumah sakit pelat merah tersebut.
Manajemen RSUD Kefamenanu akhirnya buka suara dan mengakui keterbatasan tenaga medis yang selama ini memaksa pihak rumah sakit mengandalkan skema pinjam dokter dari luar daerah.
Direktur Utama RSUD Kefamenanu, dr. Adrianus Antonius Berkanis Abi saat dikonfirmasi tidak menampik bahwa ketiadaan dokter anestesi tetap menjadi kendala krusial dalam memberikan pelayanan darurat kepada pasien. Selama ini, rumah sakit terpaksa meminjam satu orang tenaga spesialis anestesi dari Atambua untuk melayani kebutuhan medis di Kefamenanu.
Kendati demikian, lambannya mobilisasi tenaga medis darurat kerap berisiko fatal bagi keselamatan pasien.
Seperti yang dialami oleh Sefrina Kolo (30), pasien ibu hamil dengan usia kandungan melewati sembilan bulan yang diduga mengalami gawat janin di ruang bersalin Seruni, Minggu malam (27/9/2026). Pasien tersebut terkatung-katung tanpa tindakan medis mendesak sejak malam hingga Senin pagi, lantaran harus menunggu kedatangan dokter anestesi pinjaman dari luar kota.
Menanggapi kritik tajam terkait keterlambatan penanganan nyawa pasien akibat jarak dan proses tunggu tersebut, dr. Adrianus Abi menyatakan bahwa ke depannya pihak manajemen bertekad membenahi formasi tenaga medis agar insiden serupa tidak berulang. Ia menegaskan target ideal untuk operasional rumah sakit adalah memiliki dua dokter spesialis anestesi serta dua dokter spesialis bedah yang siaga di tempat.
Namun, kendala utama yang dihadapi manajemen saat ini berkaitan dengan pembiayaan insentif tenaga spesialis. Selama ini, beban keuangan yang ditanggung melalui Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) membuat pihak rumah sakit cukup kewalahan. Oleh karena itu, dr. Adrianus Abi berharap adanya dukungan kebijakan penganggaran dari pemerintah daerah agar insentif para dokter spesialis dapat dialokasikan kembali melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Kami berharapnya supaya kalau bisa ada dua dokter anestesi dan 2 dokter spesialis bedah. Mungkin nanti ke depannya kami minta supaya kalau bisa itu insentif para dokter bisa dikembalikan di APBD, karena kalau dari BLUD memang kita agak kewalahan,” ujar dr. Adrianus Abi saat diwawancarai pertelepon, Senin (28/9/2026).
Kasus ini menjadi sorotan serius bagi publik dan DPRD Timor Tengah Utara untuk segera mengevaluasi alokasi fiskal daerah di sektor kesehatan.
Salah satu warga TTU yang enggan disebutkan namanya berharap keselamatan nyawa pasien di fasilitas kesehatan rujukan utama daerah tidak lagi dikompromikan oleh kendala apapun dari pihak RSUD Kefamenanu.
“Kami berharap keselamatan nyawa pasien di fasilitas kesehatan rujukan utama daerah tidak lagi dikompromikan oleh kendala administratif maupun keterbatasan anggaran insentif tenaga medis,” katanya.
*(Ana Funan)*













