PDAM Manado Diduga Menyengsarakan Pelanggan! Masyarakat Lemah Jadi Korban Permainan?
Manado – Fajaraktual.com
Keluhan warga terhadap pelayanan PDAM Kota Manado semakin ramai diperbincangkan. Banyak pelanggan mengaku dirugikan akibat lonjakan tagihan air yang tidak masuk akal, meskipun pemakaian air di rumah tangga mereka justru menurun. Kondisi ini membuat masyarakat kecil semakin terbebani dan memunculkan dugaan adanya permainan di balik sistem meteran PDAM.

Kasus Bung Kemal: Dari “Gratis” Jadi Pungli
Kasus yang menimpa Bung Kemal, seorang jurnalis senior yang tinggal di Kelurahan Banjer, Lingkungan II, menjadi contoh nyata dugaan penyimpangan tersebut. Awalnya, pada akhir Juli 2025, ia mendapat informasi mengenai program pemasangan meter air gratis dari pemerintah Kota Manado. Namun, dalam pelaksanaannya, seorang oknum bernama Marcel justru meminta biaya tambahan sebesar Rp 500.000 dengan alasan “biaya pemasangan”.
Menurut Bung Kemal, pembayaran air bulan Agustus yang seharusnya Rp125.000 justru dikenakan denda Rp5.000, sehingga totalnya menjadi Rp130.000. Namun, kejutan terjadi pada bulan berikutnya.

> “Saat saya cek ke tempat pembayaran di agen travel dekat rumah, total tagihan saya mencapai Rp1.769.000, padahal pemakaian air kami sangat sedikit. Rumah hanya satu keluarga kecil, dan baju pun dilaundry di luar,” ungkap Bung Kemal dengan nada kecewa.
Negosiasi Mencurigakan
Lebih mengejutkan lagi, oknum Marcel kembali menghubungi Bung Kemal pada pertengahan September, mengatakan bahwa tagihan bulan itu mencapai Rp1,7 juta. Ia kemudian menegosiasikan agar Bung Kemal membayar Rp1 juta saja, dengan iming-iming akan “mengatur di meter”, namun dengan syarat tidak memberi tahu pihak kantor.
> “Saya ini wartawan, masa kamu buat begitu? Pemakaian saya kecil kok tagihannya bisa jutaan,” kata Bung Kemal. Namun, sang oknum tetap memaksa agar uang diserahkan.
Laporan ke Kantor PDAM
Merasa dirugikan, pada Senin, 20 Oktober 2025, Bung Kemal bersama Pemimpin Redaksi Media Sentral Nusantara Berjaya, Rizal Kaharu, mendatangi loket pengaduan PDAM Manado sekitar pukul 16.03 WITA. Mereka menanyakan mengapa tagihan bisa melonjak tinggi tanpa alasan jelas.
Bagian pengaduan bernama Ibu Eni menjelaskan bahwa kemungkinan besar terjadi “gangguan jaringan” pada sistem meteran. Tak lama setelah laporan masuk, sekitar pukul 18.30 WITA, tim bagian jaringan PDAM yang dipimpin Naim datang ke lokasi. Mereka mengklaim bahwa “kepala kran bocor” dan berjanji mengembalikan tarif normal Rp125.000 per bulan.
Namun, setelah dicek ulang di tempat pembayaran, tagihan tetap tercatat Rp1.769.000. Hal ini memunculkan dugaan kuat adanya kelalaian administratif atau bahkan praktik manipulasi data pelanggan di tubuh PDAM Manado.
Keluhan Serupa dari Warga Lain
Beberapa warga lain juga mengaku mengalami hal serupa. Setelah pergantian meter air, tagihan mereka naik dua hingga tiga kali lipat, padahal penggunaan air tidak berubah.
> “Biasanya saya bayar Rp70 ribu, sekarang bisa sampai Rp250 ribu. Kami masyarakat kecil jadi susah, air pun sering macet,” ujar salah satu warga yang enggan disebut namanya.
Belum Ada Penjelasan Resmi
Hingga berita ini diterbitkan, pihak PDAM Kota Manado belum memberikan klarifikasi resmi terkait dugaan permainan meteran dan pungutan liar tersebut.
Masyarakat berharap Wali Kota Manado dan DPRD Kota Manado segera turun tangan melakukan audit menyeluruh terhadap sistem administrasi PDAM, serta menindak tegas oknum-oknum yang terbukti melakukan penyimpangan.
Penutup
Kasus ini menunjukkan lemahnya pengawasan internal PDAM dan rentannya pelanggan menjadi korban praktik tidak profesional. Tim Media Sentral Nusantara Berjaya akan terus memantau perkembangan kasus ini dan meminta transparansi penuh dari pihak PDAM Kota Manado.
(Red)













