FAJAR AKTUAL ERabu, 1 Juli 2026*
Ropa, Ende – Di tengah riuhnya hempasan ombak Pantai Selatan Ende, berdirilah sebuah bangunan sederhana namun kokoh. Di sanalah, tiga biarawati Tarekat Suster Santa Ana/ SCSA menapakkan misi, menebar kasih yang tak pernah padam bagi umat Paroki Ropa, Keuskupan Agung Ende.
Sudah genap satu tahun Tarekat SCSA hadir di paroki yang digembalakan oleh RD Yohanes Raja Sola, yang lebih akrab disapa umat dengan nama Romo Hendra. Meski baru seumur jagung, sapaan kasih para suster telah mengalir deras di hati umat.
*Belajar Bahasa, Belajar Hati Umat*
Saat ditemui sebentar di biara, Suster Yosefina berkisah dengan mata berbinar. Pertemuan singkat dengan umat selalu meninggalkan kesan mendalam.
“Para suster datang dengan semangat misi yang menyala-nyala. Kami tidak hanya melayani, tapi juga berjuang keras belajar Bahasa Indonesia, bahkan bahasa daerah Ende/Ropa, agar bisa masuk ke dalam hati umat,” tutur Suster Yosefina.
Perjuangan itu tidak sia-sia. Kini, sapaan “Ine”, “Ame”, dan “Ka’e” fasih terucap dari bibir Suster Yosefina bersama dua rekannya. Mereka masih terus berjalan dan turun ke umat, mensosialisasikan diri untuk melihat kebutuhan umat setempat. Mereka hadir di tengah umat, mengajar katekese, mengunjungi orang sakit, mendampingi OMK, dan menjadi sahabat bagi anak-anak di Sekami.
*Rumah Misi di Tepi Ombak, Menanti Tunas Panggilan*
Bangunan biara yang mereka tempati memang sederhana. Dindingnya kokoh menahan angin laut, atapnya setia memayungi doa-doa yang dipanjatkan setiap pagi. Dari beranda biara, debur ombak menjadi musik pengiring dalam hening.
Namun dari tempat sederhana itulah terpancar kerinduan yang besar. Suster Yosefina dengan senyum teduh menyampaikan harapannya:
“Kami sangat merindukan putri-putri di Indonesia, khususnya di Ende dan Ropa, untuk datang dan melihat. Bergabunglah bersama kami dalam Kongregasi SCSA. Di sini, kita bersama-sama menjadi wajah Kasih Santa Ana bagi dunia.”
Kerinduan itu bukan tanpa alasan. Di tengah tantangan zaman, para suster percaya bahwa benih-benih panggilan masih terus ditaburkan Tuhan di tanah Flores. Tugas mereka adalah merawatnya agar tumbuh subur.
*Satu Tahun, Sejuta Kasih*
Satu tahun berkarya di Paroki Ropa menjadi bukti bahwa misi tidak selalu soal bangunan megah. Misi adalah tentang hati yang mau tinggal, telinga yang mau mendengar, dan kaki yang mau melangkah bersama umat.
Seperti karang di Pantai Ropa yang tetap tegar diterpa ombak, demikianlah semangat tiga suster SCSA. Mereka hadir bukan untuk menjadi besar, tetapi untuk menjadi tanda bahwa Kasih Allah sungguh nyata dan dekat.
Bagi remaja putri yang tergerak hatinya untuk mengenal lebih dekat cara hidup Suster Santa Ana, pintu biara di tepi pantai Ropa selalu terbuka. Sebab di sana, benih panggilanmu sedang dinanti untuk bertumbuh.
*Ana Funan*













