MEP Gantikan CEP: Aklamasi Sunyi Tanpa Tanding, Golkar Sulut Masuk Babak Baru Sarat Dinamika
SULUT – Fajaraktual.com
Pergantian tongkat estafet kepemimpinan Partai Golkar Sulawesi Utara dalam Musyawarah Daerah (Musda) XI di Hotel Grand Kawanua, Sabtu (11/04/2026), berlangsung mulus di permukaan—namun menyisakan sejumlah tanda tanya di balik layar.
Sebanyak 11 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) kabupaten/kota secara aklamasi menetapkan Michaela Elsiana Paruntu (MEP) sebagai Ketua DPD I Partai Golkar Sulut periode 2025–2030, menggantikan Christiany Eugenia Paruntu (CEP) yang telah lama memegang kendali partai berlambang pohon beringin di “Tanah Nyiur Melambai”.
Namun, kemenangan tanpa lawan ini justru memantik sorotan. Nama Tonny Hendrik Lasut (THL) yang sebelumnya digadang-gadang bakal menjadi penantang serius, tak kunjung mendaftarkan diri hingga batas waktu penutupan pada 10 April pukul 20.00 WITA. Kondisi ini membuat MEP melaju sebagai calon tunggal—situasi yang dinilai sebagian kalangan sebagai “sunyi kompetisi, ramai spekulasi”.
Dalam sidang pleno terbuka, Sekretaris Sidang Raski Mokodompit secara resmi mengetok palu pengesahan. Tiga keputusan strategis dihasilkan: menetapkan MEP sebagai Ketua DPD I, memberikan kewenangan penuh kepada ketua terpilih untuk menyusun struktur kepengurusan, serta memberlakukan keputusan sejak tanggal ditetapkan.
Di sisi lain, posisi CEP tidak serta-merta meredup. Ia justru didorong ke kursi strategis sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Golkar Sulut—sebuah langkah yang dinilai sebagai upaya menjaga keseimbangan kekuatan internal.
Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, yang hadir langsung dalam forum tersebut, memberikan sinyal kuat bahwa CEP masih menjadi aset penting partai. Ia menegaskan bahwa pengalaman dan rekam jejak CEP tak perlu diragukan, bahkan membuka peluang kiprah lebih luas di tingkat nasional.
“CEP adalah kader teruji. Loyalitas dan kapasitasnya sudah terbukti. Figur seperti ini pasti mendapat tempat yang lebih besar,” tegas Bahlil.
Pernyataan tersebut sekaligus mempertegas bahwa rotasi kepemimpinan ini bukan sekadar pergantian figur, melainkan bagian dari strategi besar konsolidasi partai.
Sementara itu, CEP dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran langsung Ketua Umum. Ia menilai kehadiran Bahlil menjadi indikator bahwa Musda Sulut mendapat perhatian khusus dari DPP.
“Tidak semua Musda dihadiri Ketua Umum. Ini tentu ada penilaian tersendiri. Di akhir masa jabatan saya, saya ingin memberikan yang terbaik bagi Golkar,” ujar CEP, sembari menekankan pentingnya soliditas kader.
Di balik euforia aklamasi, dinamika internal belum sepenuhnya reda. Bocoran komposisi fungsionaris mengindikasikan adanya tarik-menarik kepentingan. MEP disebut akan didukung langsung oleh Bahlil Lahadalia, sementara posisi Ketua Harian dikaitkan dengan THL dan sokongan tokoh senior Theo Sambuaga.
Sementara kursi Sekretaris disebut-sebut berada di bawah pengaruh “gerbong hijau hitam”, pertempuran justru terlihat paling sengit di posisi Bendahara. Tiga nama mencuat: Cindy Wurangian, Inggrid Sondakh, dan Ronald Takarendehang—menandakan bahwa pertarungan sesungguhnya belum berakhir.
Musda XI ini pada akhirnya bukan hanya menjadi panggung legitimasi bagi MEP, tetapi juga cermin dari konfigurasi kekuatan baru di tubuh Golkar Sulut. Aklamasi boleh saja terjadi, namun arah angin politik internal masih terus bergerak—dan publik kini menanti, apakah kepemimpinan baru ini benar-benar membawa “keberuntungan”, atau justru membuka babak baru penuh ujian
Redaksi David













