*Diduga Ada Pungutan Liar, Pencurian Sapi di Perbatasan Wini Masih Marak*
Fajar Aktual 27 Agustus 2026 – 20.25 WIB
TTU – Aksi pencurian sapi di wilayah perbatasan Wini, Kabupaten Timor Tengah Utara, belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Setiap bulan laporan ternak hilang terus masuk, namun penanganannya dinilai jalan di tempat.
Para peternak menyebut situasi ini bukan sekadar soal keamanan. Mereka menduga ada praktik pungutan liar yang sudah mengakar dan justru melindungi rantai pencurian tetap hidup.
“Selama setoran ke atas masih lancar, jangan harap pencuri sapi mau hilang dari TTU,” kata seorang warga yang ditemui di Wini. Kalimat itu ia ucapkan dengan nada kecewa setelah mengaku berkali-kali kehilangan ternak.
Saat media Fajar mengonfirmasi beberapa warga yang enggan menyebutkan nama, pengakuan yang sama terus muncul. Setiap kali membawa ternak dalam jumlah besar mereka diwajibkan menyetor uang.
“Kami bawa 10 ekor harus setor Rp500 ribu. Kalau tidak, urusannya dipersulit,” ungkap salah satu warga. Pernyataan itu diulang oleh beberapa peternak lain di lokasi berbeda.
Pungutan itu disebut tidak memiliki dasar hukum yang jelas. Tidak ada kuitansi, tidak ada pos resmi, dan tidak pernah diumumkan secara terbuka. Namun anehnya, semua orang di jalur itu seperti sudah tahu aturannya.
Dampaknya langsung terasa. Selain rugi karena sapi dicuri, peternak juga harus keluar uang tambahan agar bisa lewat. Beban ganda ini membuat banyak warga memilih diam karena takut dipermasalahkan di kemudian hari.
Warga menilai pembiaran terhadap pencurian sudah berlangsung terlalu lama. Pola yang sama berulang: laporan dibuat, penyelidikan lambat, dan pada akhirnya kasus menghilang tanpa kejelasan.
Di sisi lain, jaringan pencuri sapi di perbatasan disebut semakin berani. Mereka beroperasi di malam hari, memotong di tempat tersembunyi, lalu memindahkan daging lewat jalur-jalur tikus yang sudah dikuasai.
Minimnya pengawasan di titik-titik rawan membuat para pelaku leluasa. Ditambah lagi dengan dugaan adanya “uang keamanan” yang mengalir, membuat kepercayaan masyarakat terhadap aparat semakin terkikis.
Beberapa warga bahkan mengaku sudah berhenti melapor. Mereka lebih memilih menanggung rugi sendiri daripada harus berurusan panjang dan tetap tidak ada hasil.
Kondisi ini menimbulkan keresahan luas. Sektor peternakan yang menjadi tulang punggung ekonomi warga perbatasan kini berada dalam tekanan. Jika tidak segera dibenahi, bukan tidak mungkin warga akan mencari jalan sendiri.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Polsek Wini maupun Polres TTU terkait dugaan pungutan liar dan lambannya penanganan kasus pencurian sapi di wilayah perbatasan.
(Ana funan)












