*”Cinta yang Tak Pernah Berakhir”*
(Kisah Inspiratif)
Ibu Gita,
seorang wanita yang kuat dan sabar. Suaminya,
Bapak Wilem, adalah seorang pria yang penyayang, sabar, dan semangat dalam bekerja keras.
Mereka memiliki kehidupan rumah tangga yang aman dan damai, dipenuhi dengan suasana kasih dan tawa ria bersama tiga orang putra yang tumbuh dan berkembang dengan sehat, cerdas dan ceriah
Bapak Wilem,
sang suami terkasih adalah seorang pekerja keras, ulet dan humanis yang selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi keluarganya. Gita sang istri juga adalah seorang wanita perumahan cerdas ulet dan humanis . Mereka hidup bersama dalam suasana sangat mencintai dan menghargainya serta membangun hubungan kekeluargaan yang harmonis dengan lingkungan mereka.
Mereka memiliki kebiasaan yang indah, seperti selalu makan bersama, doa bersama dalam keluarga sering berjalan-jalan di sore hari disekitar lingkungan rumahnya, menikmati matahari terbenam, dan berbicara tentang impian mereka. Serta selalu perduli dengan sesama.
Bapak Wilem yang penyayang dan humoris selalu membuat Ibu Gita tertawa, bahagia dan Ibu Gitapun sebaliknya selalu membuat Bapak Wilem merasa dicintai dan dihargai.
Mereka adalah pasangan yang harmonis, sempurna dimana menjadi teladan dan pendukung bagi orang lain.
Anak-anak merekapun sangat bahagia memiliki orang tua seperti mereka.
Tetapi,
takdir berkata lain. Rencana dan Rancangan Allah berbeda dengan rencana, rancangan dan harapan keluarga bapak Wilem dan ibu Gita.
Di suatu ketika, kebahagian dan ketenangan rumah tangga mereka dilanda masalah. Bapak Wilem jatuh sakit berkepanjangan. Ibu Gita dengan segala upayanya berdoa dan berjuang habis habisan untuk kesembuhan sang suami terkasih, namun takdir menentukan lain diluar harapan keluarga. Bapak Wilem meninggal dunia. Meninggalkan sang istri yang sangat disayangi, Ibu Gita bersama anak-anaknya.
Ibu Gita,
istri terkasih sebagai seorang manusia sangat terpukul dalam kesedihan dan kehancuran mendalam dengan luka batin dan derita berkepanjangan. Namun, dalam kesedihan akibat kehilangan yang sangat luar biasa ibu Gita sadar bahwa ia harus kuatkan diri untuk menerima keadaan yang sedang dihadapi demi dirinya dan tiga orang putra buah kasih sayang dia bersama kekasihnya.
Kuat dan bangkit.
Bangkit dan kuat, kata ibu Gita pada dirinya sendiri.
Dengan sisa sisa tenaga dan harapan yang ada ia mulai berjuang memasuki dunia kehidupan rumah tangga dengan bentuk dan cara yang berbeda sebagai single parents, sebagai ibu sekaligus sebagai ayah untuk anak anak.
Ia menghadapi berbagai suasana dan tantangan yang sangat luar biasa.
Ia mengalami suasana seperti yang dikatakan orang “hilang suami hilang kehormatan”.
Banyak sahabat dan relasi yang begitu dekat ketika sang suami masih hidup mulai pelan pelan berkurang.Berbagai aktivitas yang biasanya bapak Wilem dan ibu Gita lakukan juga ikut menurun frekuensi dan kapasitas. Suasana rumah tangga mengalami perubahan.
Riak riak kecil berupa tantangan muncul silih berganti baik akibat dari perubahan situasi dan kondisi maupun dari lingkungan keluarga dan relasi.
*”Harus Bangkit
Harus Kuat
Harus Move on”*
Itulah keputusan yang diambil ibu Gita menuju perjalanan kedepan bersama anak anak.
Ia terus berjuang, bekerja keras, dan merawat anak-anaknya yang masih kecil dikala itu dengan cinta dan kasih sayang.
Ibu Gita masih selalu mengingat saat-saat terakhir bersama suaminya, Bapak Wilem.
Dia adalah figur laki-laki, suami, dan bapak yang sangat luar biasa ramah, rendah hati, mencintai keluarganya dan suka memberi bantuan dengan tulus kepada banyak orang.
Bapak Wilem memiliki hati emas, selalu siap membantu orang lain tanpa mengenal lelah dan waktu.
Ibu Gita sangat mencintai dan menghargai kebaikan suaminya itu. Bukti cinta seorang Gita kepada suaminya hingga kini sudah 26 tahun berlalu tetap setia pegang janji pernikahan hingga maut memisahkan.
Tetapi, nasib dan takdir tak dapat diprediksi dan ditolak.
Allah berkehendak lain.
Bapak Wilem pergi untuk selama lama .
Meninggalkan Ibu Gita dan anak-anaknya, meninggalkan kesedihan, meninggalkan luka batin dan rasa yang dalam dan panjang dalam perjalanan hidup ibu Gita bersama anak anak.
Ibu Gita sangat terpukul,
seakan dunia kehidupannya telah runtuh.
Dia merasa kehilangan arah, kehilangan tujuan hidup.
Suasana dan kondisi rumah serta kehidupan berubah drastis, sepi, sunyi, luka dan sakit ketika tanpa kehadiran Bapak Wilem, pribadi yang selalu memberikan ketenangan dan kebahagiaan.
Dengan sisa puing-puing tenaga dan harapan,
Ibu Gita berusaha untuk bangkit dari kesedihan panjang. Dia terus berjuang, bekerja keras, bertani
dan merawat anak-anaknya dengan cinta dan kasih sayang.
Namun, walaupun sekian lama waktu berlalu, luka rasa kehilangan itu masih tetap segar di hati, perasaan, dan pikiran Ibu Gita.
Dia masih mengingat kata-kata manis, senyum, dan pelukan hangat Bapak Wilem dengan penuh kasih sayang.
Ibu Gita sering menangis sendirian, mengenang saat-saat indah bersama suaminya. Dia merasa bahwa cinta tulus seorang suami kadang tidak dapat ditemukan pada semua laki-laki.
Bapak Wilem adalah sosok satu-satunya, dan dia akan selalu mencintainya.
Dan bukti cinta Ibu Gita adalah berani pegang janji setia pernikahan 26 tahun hidup sendirian hingga hari ini. Semua itu adalah keputusan murni Ibu Gita untuk suami tercinta Bapak Wilem.
Bersama tetesan air mata dan perasaan yang teriris luka kehilangan
ibu Gita menuliskan sebuah *puisi untuk Bapak Wilem di alam yang telah berbeda*.
Kasihku,
sayangku,
Aku masih mengingat hari hari bersamamu,
Kita berjalan berdua, bergandengan tangan,
Bersama menikmati hidup yang indah.
Kini kamu sudah tiada,
Tetapi kenangan kita masih ada, sudah 16 tahun engkau pergi meninggaljanku sendirian,
Aku masih merasakan kehangatan cinta kita,
Aku masih mencintaimu, selama-lamanya
Semoga kamu bahagia di surga, doaku selalu untukmu.
Aku akan terus menjaga anak-anak kita,
Aku akan terus mencintaimu,
Selama-lamanya, kasihku.
*Pesan moral dari kisah ibu Gita*
Adalah bahwa cinta sejati tidak pernah berakhir, bahkan setelah kematian. Ibu Gita masih mencintai dan mengenang Bapak Wilem, sudah 16 tahun hidup sendirian tapi cinta tak pernah pudar dan itu membuatnya kuat untuk terus berjuang.
Semoga kita semua bisa belajar dari kisah ini, dan selalu mencintai dan menghargai orang-orang yang kita cintai.
***********
Yohanes Tafaib













