*Fajar Aktual* Senin, 6 Juni 2026
TTU — Megahnya ruang sidang DPRD Timor Tengah Utara kembali diuji. Bukan oleh gemerlap lampu atau dinginnya pendingin ruangan, melainkan oleh pertanyaan paling mendasar: adakah keluhuran hati di balik kursi empuk wakil rakyat?
Senin, 6 Juli 2026 pukul 10.00 WITA, Badan Kehormatan DPRD TTU secara resmi mengundang ayah almarhuma dr. Icha untuk memberikan keterangan di Ruang Badan Kehormatan. Pemanggilan ini bukan sekadar agenda administratif. Ini adalah panggilan nurani lembaga terhadap dugaan pelanggaran kode etik yang mencoreng marwah dewan.
Tiga anggota DPRD TTU dilaporkan diduga melakukan intimidasi, tekanan verbal, dan tindakan yang merendahkan martabat petugas kesehatan di IGD RS Leoana pada 13 Juni 2026. Saat itu, para tenaga kesehatan sedang berpacu dengan waktu, berjuang menyelamatkan nyawa. Alih-alih mendapat dukungan, mereka justru berhadapan dengan arogansi kekuasaan.
Badan Kehormatan menyebut keterangan ayah almarhuma dr. Icha sebagai kunci untuk membongkar tabir peristiwa malam itu. Transparansi dijanjikan. Objektivitas digadang-gadang. Namun publik tidak butuh janji. Publik menuntut bukti bahwa gedung mewah itu tidak dihuni oleh hati yang kosong.
Ironis. Sumpah jabatan diucapkan dengan lantang di bawah atap dewan yang menjulang, tetapi etika paling dasar: menghormati manusia yang mengabdi, justru runtuh di lantai IGD. Jika wakil rakyat lupa bahwa mereka dipilih untuk melayani, bukan untuk menekan, maka gelar “yang terhormat” hanya menjadi hiasan di papan nama.
Kasus ini adalah cermin. Bahwa kekuasaan tanpa empati adalah tirani kecil yang dibungkus jas dan dasi. Bahwa kursi dewan tanpa integritas hanya akan melahirkan kebijakan yang tuli terhadap jerit rakyat kecil. Tenaga kesehatan adalah garda terdepan kemanusiaan. Merendahkan mereka sama dengan mengkhianati sumpah sendiri.
Badan Kehormatan DPRD TTU kini berada di persimpangan sejarah. Menindak tegas berarti menyelamatkan muka lembaga. Membiarkan berarti melegitimasi arogansi. Publik TTU menunggu: akankah proses ini melahirkan wakil rakyat yang benar-benar wakil, yang benar-benar rakyat? Atau hanya melahirkan berita yang besok dilupakan?
Sebab gedung boleh megah, anggaran boleh besar, tapi jika hati tak lagi berpihak pada kebenaran, maka semua itu hanya kuburan bagi kepercayaan publik.
Ana Funan













