Beri Bantuan Nyata Kepada Masyarakat Terdampak Gempa Tim Gabungan JPIC SVD, TRUK-F, dan SSpS Tiba di Pulau Palue
Maumere, Sikka. FajarAktual. Com
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Palue-Flores, Nusa Tenggara Timur, menggugah kepedulian banyak pihak untuk hadir dan memberikan bantuan nyata kepada masyarakat yang terdampak.
Di tengah situasi sulit yang masih dirasakan para penyintas, berbagai bentuk solidaritas terus berdatangan untuk meringankan beban mereka.
Salah satu wujud solidaritas tersebut datang d
ari tim gabungan yang terdiri atas Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (JPIC) SVD Provinsi Ende, Perkumpulan Relawan Kemanusiaan Flores (TRUK-F), dan para suster dari Kongregasi Suster Misi Abdi Roh Kudus (SSpS). Rombongan yang berjumlah 25 orang tersebut tiba di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (23/8/2026), setelah menempuh perjalanan laut selama kurang lebih lima jam.
Mereka membawa bantuan logistik bagi masyarakat yang terdampak gempa.
Bantuan yang dibawa meliputi 5 ton beras, 600 dus air mineral, obat-obatan, serta berbagai kebutuhan khusus bagi perempuan dan anak-anak. Bantuan tersebut dihimpun dari berbagai pihak, baik pribadi maupun lembaga, yang memiliki kepedulian terhadap para korban gempa.
Di antara para donatur dan pendukung bantuan tersebut adalah Generalat SVD di Roma dan Prokur Misi SVD di Sankt Augustin, Jerman.
Ketua rombongan, Pater Vande Raring SVD, menjelaskan bahwa jenis bantuan yang dibawa merupakan hasil koordinasi dengan masyarakat di wilayah sasaran. Dari koordinasi tersebut diketahui bahwa kebutuhan yang paling mendesak saat ini adalah beras dan air minum. Karena itu, kedua kebutuhan tersebut menjadi prioritas utama dalam misi kemanusiaan kali ini.
” Bantuan logistik tersebut selanjutnya akan didistribusikan kepada masyarakat di salah satu desa di Kecamatan Palue, yakni Desa Nitunglea. Kegiatan penyaluran bantuan akan diawali dengan perayaan misa bersama masyarakat setempat sebagai ungkapan iman dan solidaritas. Selain pembagian bantuan, tim juga akan menyelenggarakan pemeriksaan kesehatan secara gratis bagi masyarakat yang membutuhkan, “jelas Pater Vande.
Dikatakan Kehadiran tim gabungan ini memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar penyaluran bantuan kemanusiaan. Meskipun keluarga besar SVD dam SSpS sendiri turut menjadi korban dan mengalami dampak dari gempa bumi ini, penderitaan yang dialami tidak boleh membuat kita menutup mata terhadap penderitaan orang lain.
“Kita dipanggil untuk melihat melampaui pagar penderitaan kita sendiri dan membuka hati terhadap mereka yang mengalami kesulitan yang mungkin jauh lebih berat.
Justru dalam situasi seperti ini, solidaritas menjadi semakin penting. Penderitaan yang kita alami bersama seharusnya tidak membuat kita semakin terkurung dalam diri sendiri, tetapi mendorong kita untuk membangun kepedulian dan saling menguatkan,” ungkap Pater Vande.
Ketika kita sendiri terluka, lanjutnya kita tetap dipanggil untuk melihat luka sesama. Ketika kita sendiri mengalami kesulitan, kita tetap dapat berbagi apa yang kita miliki dengan mereka yang membutuhkan.
Semangat ini sekaligus merupakan wujud nyata dari hakikat Gereja yang misioner. Gereja tidak dipanggil untuk hanya mengurus dirinya sendiri, mencari kenyamanan, atau memperhatikan kesejahteraannya sendiri. Gereja dipanggil untuk keluar dari dirinya, hadir di tengah kehidupan masyarakat, dan berjalan bersama mereka yang menderita, terutama mereka yang terlupakan dan berada dalam situasi sulit.
Karena itu, kehadiran JPIC SVD, TRUK-F, SSpS, dan para mahasiswa program magister teologi IFTK Ledalero di Palue bukan sekadar sebuah kegiatan bantuan sosial. Kehadiran mereka merupakan kesaksian bahwa Gereja hadir di tengah masyarakat dan berjalan bersama mereka dalam situasi penuh penderitaan.
“Gereja ingin menunjukkan bahwa iman tidak berhenti pada kata-kata, tetapi diwujudkan dalam solidaritas dan tindakan nyata, ” katanya lagi.
Inilah semangat misioner yang hendak dihidupi: tidak hanya melihat ke dalam, tetapi berani keluar; tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi hadir bagi sesama; tidak hanya berbicara tentang solidaritas, tetapi mewujudkannya dalam tindakan nyata.
Melalui perjalanan menuju Palue, bantuan yang dibawa, pelayanan kesehatan, dan kehadiran bersama masyarakat tambah Pater Vande keluarga besar Arnold Jansen ingin menegaskan bahwa di tengah bencana dan penderitaan, tidak seorang pun boleh merasa berjalan sendirian.
“Solidaritas adalah cara kita menghadirkan harapan dan, sekaligus, mewujudkan wajah Gereja yang peduli, dekat, dan sungguh-sungguh hadir bagi mereka yang membutuhkan, ” pungkasnya.
Redaksi : Yuven Fernandez













