*PMKRI Kefamenanu Gaungkan “Perang Total” Lawan TPPO di Dies Natalis ke-25*
_Fajar Aktual 16 Mei 2026 16 WITA_
Kefamenanu bergemuruh oleh seruan perang total terhadap tindak pidana perdagangan orang. Perayaan Dies Natalis ke-25 PMKRI Cabang Kefamenanu Santo Yohanes Don Bosco dijadikan panggung untuk menyatukan seluruh elemen dalam satu tujuan: mengakhiri darurat TPPO di Nusa Tenggara Timur.
Melalui diskusi publik bertema “Darurat Tindak Pidana Perdagangan Orang: Bagaimana Stakeholders Mengakhirinya”, PMKRI menghadirkan para pemangku kepentingan kunci di NTT dalam satu mimbar. Aula Biinmaffo Kefamenanu pada 17 Mei 2026 menjadi ruang pertemuan antara pemerintah, gereja, aparat keamanan, aktivis, hingga lembaga legislatif.
Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena, http://S.Si., Apt membuka acara dengan _opening speech_. Kehadiran kepala daerah ini mempertegas komitmen Pemprov NTT memperkuat perlindungan masyarakat dan pembangunan sumber daya manusia sebagai benteng melawan perdagangan orang.
Dari sisi gereja, Uskup Atambua Mgr. Dr. Dominikus Saka, Pr hadir membawa suara lantang untuk isu kemanusiaan. Ia dikenal vokal menyuarakan perlindungan bagi masyarakat kecil, pekerja migran, dan korban perdagangan orang di wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste.
Bupati Timor Tengah Utara Yosep Falentinus Delasalle Kebo, SIP., M.A juga turun langsung. Sebagai pemimpin di kawasan perbatasan, ia memahami akar masalah sosial yang kerap menjadi pintu masuk TPPO, mulai dari kemiskinan hingga rendahnya akses pendidikan dan lapangan kerja.
Diskusi semakin tajam dengan hadirnya RD. Leonardus Mali, http://L.Ph, pegiat kemanusiaan yang aktif mengadvokasi masyarakat kecil. Pengalamannya memperkaya pembahasan tentang langkah preventif dan sistem pendampingan bagi korban.
Perspektif kaum muda turut dibawa Ketua Presidium Pengurus Pusat PMKRI Susana Florika Marianti Kandaimu. Gerakan mahasiswa menegaskan posisinya untuk tidak tinggal diam menghadapi ancaman yang terus membayangi wilayah perbatasan.
Perayaan seperempat abad PMKRI Kefamenanu ini bukan sekadar seremonial. Ia menjadi titik temu bagi semua pihak untuk merumuskan solusi konkret menghentikan rantai perdagangan orang yang masih mengintai NTT.
Ana Funan.













